Kamis, 20 Mei 2010

KISAH SEPOTONG KUE

Suatu malam ada seorang wanita sedang menunggu di bandara. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk menghabiskan waktu, ia membeli buku dan sebungkus kue di toko bandara. Lalu ia menemukan tempat duduk, sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasikannya, ia melihat lelaki duduk disebelahnya, lalu mengambil satu persatu kue yang ada diantara tempat duduk mereka berdua.

Wanita itu mencoba mengabaikan apa yang terjadi agar tidak ada keributan.ia membaca, memakan kue sambil melihat jam. Sementara si lelaki tadi dengan beraninya mengambil keu satu persatu  disampingnya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berfikir:” kalau saja aku bukan orang baik-baik , sudah ku maki-maki dia”. Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki itupun juga mengambil satu .Ketika  tersisa hanya satu kue, ia bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang dilakukan si lelaki itu.

Kamis, 15 April 2010

CINTA KARENA ALLAH

 قال رسول الله r: قال الله تعالى: حَقَّتْ مَحَبَّتِيْ لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ الْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلَى مَنَابِرٍ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهَا بِمَكَانِهِمْ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيْقُوْنَ وَالشُّهَدَاءُ [صحيح الجامع]
"Layak untuk mendapatkan cinta-Ku bagi orang yang saling mencintai karena-Ku. Orang yang saling mencintai karena-Ku (di hari kiamat) akan ditempatkan di menara dari cahaya, tempat yang diingini oleh para nabi, orang-orang yang benar dan para syuhada" (Shahih Jami’).

Selasa, 26 Januari 2010

Aku (Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

http://tunas63.wordpress.com/2008/08/10/aku/

Senin, 25 Januari 2010

KRAWANG-BEKASI (Chairi Anwar)

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.